3 Unsur untuk Menuju Kesejatian



Dan bagaimana mungkin kita memperoleh kesejatian, tanpa kita berupaya untuk mengaktualisasikan wujud dari kesejatian itu di dalam kehidupan nyata kita.


Perwujudan dari hak, kemerdekaan/kemandirian dan juga serta menyadari akan kodrat kita sebagai manusia adalah sebuah jalan menuju kesejatian kita sebagai manusia.


Kebanyakan dari kita memperoleh pengetahuan sejak di pendidikan dasar, bahwasannya dahulukan kewajiban dan baru hak.


Dan lihat saja pada kenyataan yang kita rasakan, kita lihat di lingkungan kita (Negara Kesatuan Republik Indonesia) di tiap hari. Rakyat di tuntut bayar pajak dulu, mentaati peraturan dan undang undang yang dibuat para elite politik yang sejatinya kita tahu itu untuk kepentingan kelompok mereka. Kita rakyat selalu dituntut untuk menjalankan kewajiban dulu dan baru haknya. Harusnyalah para Pemimpin "elit" di tanah air ini mampu dan berpikir tentang memberikan hak hidup kepada rakyatnya lebih dulu. Lihat saja apakah bayi yang baru lahir harus menjalankan kewajibannya lebih dulu? Tentunya pengasuhan, penjagaan,perlindungan dan hak untuk mendapatkan pendidikan harus dipenuhi terlepas ia lahir dari keluarga kaya atau miskin.Hak-hak tersebut haruslah dipenuhi agar ia menjadi manusia yang dapat menjalankan kewajibannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan negara. 


Setelah pemenuhan hak dan kewajiban terpenuhi, disinilah proses awal menuju sebuah kesejatian. Dan tahap berikutnya adalah mendidik, mengajar, dan melatihnya agar bisa menjadi manusia yang mandiri. Ia harus diarahkan agar mampu hidup yang tidak tergantung pada orang lain.


Marilah kita simak bersama keadaan ekonomi masyarakat Indonesia sekarang ini. Kita amat sangat tergantung pada bantuan dan atau hutang luar negeri. Negara yang dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa ini, justru dihisap oleh negara-negara maju di dunia ini. Setiap bayi yang dilahirkan yang seharusnya merupakan aset negara, ternyata tumbuh menjadi manusia-manusia pencari kerja dan bahkan menjadi beban negara. Hal ini terjadi dikarenakan manusia-manusia yang tergantung pada orang lain. Dan dari satu kenyataan ini akan melahirkan sebuah hubungan antara si lemah dan si kuat. Yang terjadi kemudian yang lemah merasa sangat memerlukan yang kuat, sedangkan yang kuat berbuat tidak semena-mena terhadap mereka yang lemah.


Akibat dari keadaan tersebut tambah tahun pengangguran akan semakin bertambah besar. Yang menjadi gantungan relatif tetap, sedangkan yang menggatungkan diri bertambah banyak. Terjadi relasi yang tidak seimbang, sehingga kehidupan masyarakat menjadi rawan.



Kodrat. Inilah unsur berikutnya yang menopang asas hak dan kemandirian dalam kehidupan masyarakat. Kodrat pada manusia merupakan kuasa pribadi. Kodrat tidak didapat dari luar diri. Dengan demikian kodrat tidak berasal dari pelatihan dan pendididikan. Tetapi kodrat harus diberikan ruang yang kondusif agar suatu bentuk kemampuan khusus yang dianugerahkan pada setiap orang bisa terwujud.



Dalam psikologi, kodrat dapat dikatakan hampir sama dengan talenta. Bila seseorang tidak diberikan kesempatan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya, maka kodratnya kemungkinan besar tak akan terwujud. Padahal, kodrat yang ada pada diri seseorang itulah yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya. Bila setiap orang bisa mewujudkan kodratnya, maka akan terwujud hubungan yang saling memberikan dan sekaligus saling membutuhkan. Setiap orang akan memiliki nilai tawar bagi orang lain.


Harmonisasi dan ikatan antar warga negara akan menguat bila sebagian besar penduduknya bisa mewujudkan ketiga unsur menuju kesejatian tersebut.



Akhirnya jati diri manusia akan muncul dengan sendirinya, dan kita akan menjadi bangsa yang kokoh dan tidak mudah diprovokasi dan atau terprovokasi.
"Salam Satu"
MERDEKA!!!!!!




Photo Credit: Wayang by Hengki24


Tag : Kesejatian
0 Komentar untuk "3 Unsur untuk Menuju Kesejatian"

Back To Top